Selasa, 24 Januari 2012

Gus tf Sakai: “Apa yang Saya Tulis Mungkin Saja Omong Kosong”


Tersesat dalam labirin sastra kontemporer Indonesia yang terkotak-kotak, menolehlah sejenak pada Gus tf Sakai. Nun di Payakumbuh, Sumatra Barat sana, penulis prosa dan puisi ini berteguh pada sikapnya; hidup dalam sastra yang melintasi batas apa pun. Agama, ras, suku, bahkan antara yang nyata dan tidak.

Karya-karyanya terasa absurd bagi kebanyakan orang. Susah pula didefinisikan aliran dan kecenderungannya. Hampir tidak ada pula telaah yang dalam terhadap karya-karyanya. Padahal, waktu telah merentang hampir 20 tahun sejak pertama kali ia meluncurkan buku pertamanya, novel remaja yang banyak jadi perbincangan,Segi Empat Patah Sisi.

Gus seperti hilang ditelan hiruk-pikuk orang yang berpolemik mendefinisikan karya dan alirannya.

Sebagian besar agaknya karena sukar menyimpulkan karya laki-laki kelahiran Payakumbuh 43 tahun silam itu dalam gambaran yang lugas. Sebagaimana yang diungkapkan kurator sastra Nirwan Arsuka dalam satu peluncuran buku Gus, Perantau belum lama ini. Baiklah kita tidak memandang Gus dalam kerangka yang sempit karena sebagaimana karyanya, ia sosok yang melintas menembus batas-batas ruang dan dimensi waktu, begitu katanya.

Sebagian lagi karena Gus sendiri adalah sosok yang enggan tampil ke muka. Ia lebih suka orang membincangkan karyanya sampai menjadi polemik sekalipun, ketimbang berpayah-payah menyorot pendapat pribadinya. Tidak heran jika orang amat jarang mendapatkan kalimat-kalimatnya yang berharga barang sekutip dua kutip, kecuali pada seminar-seminar sastra dan pelatihan yang ia hadiri.

Dalam sastra yang melintas itu pula Gus setia pada jalannya. Meski mengakui sastra tidak mungkin memadai sebagai pilihan untuk menghidupi keluarga, ayah tiga anak itu tetap menulis.

Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak seiring dengan kegemaran berolah raga (di antaranya sepakbola dan bela diri. Dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian, tetapi publikasi pertamanya adalah berupa prosa (cerita pendek) yang memenangkan Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak itu, dengan beberapa nama samaran, puisi-puisi dan cerpen-cerpennya mulai muncul di majalah Hai (Jakarta) dan ruang kebudayaan harian Singgalang (Padang). Nama Gus tf untuk puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa ia gunakan konsisten setelah pindah ke Padang pada 1985, saat ia memutuskan hidup dari menulis.

Pada 1996, pemilik nama asli Gustrafizal ini kembali ke kampungnya, Payakumbuh. Walau menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia bisa melintas fisik dan non fisik ke mana-mana. Dari kampungnya itulah ia kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar seperti Balai Pustaka, Gramedia, Grasindo, dan Penerbit Buku

Kompas dan media-media massa terbitan Jakarta. Ia juga memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal ke tempat mana ia diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.

Bulan silam, dalam keengganannya menjadi sorotan, kumpulan cerpen terbarunya Perantau (2007) muncul sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori prosa. Penghargaan itu menghujaninya hadiah sekaligus pengakuan atas pilihan hidupnya di jalan sastra.

Gus tidak datang untuk menerima hadiah senilai Rp 100 juta itu ke Jakarta. Dalam kata sambutan kirimannya yang dibacakan pada malam penghargaan itu, Gus antara lain menyebut kemenangannya sebagai “ada kemungkinan salah mentabulasi nilai juri”.

Sebulan setelah penghargaan itu, di ketenangan suasana kampungnya, Sarjana Peternakan Universitas Andalas, Padang ini menerima Febri Yanti dari Tempo. Dalam obrolan yang hangat dan seru, tampak dua sisi yang saling berlawanan dalam dirinya. Sikapnya yang menekankan keinginan untuk jauh dari sorotan dan jawaban-jawaban bernas serta tajam yang membuat sosoknya layak berkilau.

Berikut kutipan percakapan itu:

Mengapa Anda tidak datang pada malam penghargaan itu?

Saya tidak yakin bakal menang. Selain itu, saya memang tidak ingin datang.

Anda juga mengkritik hasil penilaian juri…

Begini, saya tidak bermaksud menyebut karya-karya yang masuk dalam daftar sebagai suatu yang buruk. Kalau jurinya diperbaiki mungkin bagus. Tahun ini saya yang beruntung.

Ada yang bilang, Anda susah sekali diwawancarai

Begini, saya lebih suka orang bicara tentang karya saya daripada habis-habisan mengupas pendapat saya pribadi. Itu akan lebih luas manfaatnya.

Orang menyebut karya Anda sebagai sastra yang melintas. Anda sendiri melihatnya bagaimana?

Saya ingin karya itu dibaca banyak orang, tidak dibatasi oleh yang dulunya disebut SARA, hukum, agama, ideologi, dan kelompok yang membatasi seseorang dan akhirnya juga hanya memilih bacaan-bacaan yang sesuai dengan kelompoknya itu. Alangkah menyenangkan bila kita bisa menghasilkan karya yang bisa dibaca semua orang, tidak hanya oleh kelompok tertentu. Yang diinginkan oleh suatu karya sastra, atau karya seni pasti ingin diapresiasi banyak orang.

Penulis yang ingin membuatnya terkotak-kotak, atau memang begitulah pembaca kita?

Saya pikir kedua-duanya. Memang ada penulis yang sengaja menghindarkan diri dari cap A, sehingga dia nyatakan dirinya B. tetapi saya pikir itu memiskinkan sastra. Ada namanya novel selangkangan, ada label sastra Islam, kiri, kanan… Mestinya masyarakat tumbuh dengan banyak sumber.

Kalau sastra yang berlabel atau berembel-embel sejarah atau politik?

Belakangan ini ada kondisi yang membuat sastra tidak lagi dilihat sebagai karya sastra. Dalam meluncurkan karya sastra, diundang sejarahwan, atau dalam bidang lainnya diundanglah selebriti. Itu kan aneh. Itu otomatis sastra akan menjadi nomor dua, termiskinkan. Kalau yang diundang sejarahwan, pasti orang akan melihat dari sudut sejarahnya. Untuk apa kita membaca karya sastra? Itu terjadi juga kalau hendak membicarakan Indonesia. Pembicaranya menganut aliran kajian budaya, yang penting bagi dia karya seperti Widji Tukul dibandingkan Asep Zamzam Noor, misalnya. kalau ingin melawan sistem, kenapa tidak langsung berpolitik praktis saja?

Soal tema sastra, bagaimana Anda melihatnya?

Ada tema, tapi nanti begitu dia diterbitkan jadi buku, ada institusi lain yang bekerja, yang namanya industri. Misalnya tren sastra wangi atau sastra kelamin kemarin itu. Begitu dia diterbitkan, sistem industri bekerja. Semua bikin sastra kelamin. Bisa laku. Misalnya kalau dia datang ke sebuah penerbit, mereka akan bilang, eh, yang laku itu yang ini loh. Jadi mereka mungkin tidak meminta si pengarangnya menulis, tetapi karena pengarang ingin karyanya terbit, dia bikin sesuai dengan yang diinginkan penerbit. Pada saya tidak ada pesanan seperti itu.

Soal buku Anda Perantau, bagaimana Anda membandingkannya dengan kumpul cerpen pertama Anda, Istana Ketirisan?

Jauh, tarafnya bagaimana pun perkembangan itu selalu ada, dan pasti kita selalu mengevaluasi. Biasanya karya terakhir yang belakangan ditulis dengan kesadaran lebih tinggi, kelihatan berbeda dan lebih bagus yang kita tulis belakangan.

Anda mengungkapkan definisi perantau dalam perspektif yang lain. Sebenarnya bagaimana nilai-nilai Minangkabau itu berkembang dalam karya-karya Anda?

Saya pikir, dalam dunia yang paradoks, maka persoalan selalu dilihat dari sisi yang timbal balik. Minang memang kebudayaannya egaliter sekaligus demokratis. Tapi saya tidak berpijak dari satu kebudayaan. Sebetulnya begini, apa pun tema sastra, tidak pernah ada yang baru. Kita bisa melihatnya baru lagi kalau bungkus yang kita kenakan itu baru. Konsekuensinya juga kita tidak bisa membatasi hanya di satu sudut pandang saja. Misalnya tentang Minangkabau, mungkin nanti pembaca di luar Minangkabau jadi bingung, atau mereka harus punya referensi yang cukup tentang Minagkabau baru baca karya saya. Kan kasihan. Jadi saya menulis sebagai orang luar melihat Minangkabau.

Dalam suatu kesempatan, Anda pernah bilang tidak punya proses kreatif dalam menulis. Apa maksudnya?

Ya, dengan menyesal saya katakan, saya tidak punya proses kreatif. Ajaib? Bagi saya tidak. Bila pengertian proses adalah runtunan perubahan atau perkembangan yang berkelanjutan, bagaimanapun saya memeriksa; menjenguk ke dalam diri setiap kali mencipta, hal itu tak pernah bisa saya temukan, tak pernah bisa saya terangkan. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, ajaib, mencengangkan. Satu letupan, dan tiba-tiba ia menjelma. Ada. Bagaimana saya mesti menjelaskan itu? Akhirnya, bisa saja apa yang saya omongkan itu dilihat sebagai hal yang tidak penting oleh orang lain. Bisa saja apa yang saya tulis itu omong kosong belaka.

Biasanya satu kali, penulis ketemu hambatan dalam menulis. Bagaimana dengan Anda?

Pertama, bila saya terlalu terpaku pada bentuk penyajian yang telah ada. Kita tahu, secara umum, ada dua bentuk atau cara yang digunakan pengarang untuk menyajikan ceritanya. Pertama adalah bentuk penyajian yang sangat terikat kepada plot, sedangkan yang kedua adalah bentuk penyajian yang bertitik tolak pada, atau mengandalkan, karakter. Bila sebelum mengarang saya terlebih dulu berpikir dan menimbang bentuk penyajian mana yang akan saya gunakan, maka biasanya karangan saya akan macet; hambatannya terasa besar. Lainnya bila saya terlalu percaya tokoh dalam karangan saya hadir karena saya ciptakan. Jika saya percaya “nyawa” si tokoh ada pada saya, dia jadi tidak berkembang. Yang lainnya, ketika saya terus berpikir bahwa karya saya harus membawa pesan moral. Biasanya karangan saya tidak bakal selesai.

Anda dapat ide dari mana saja?

Dari mana saja bisa. Melihat sepatu butut di kantor Gubernur pun bisa jadi karya juga. Dulu, sebelum menikah, sering jalan-jalan cari inspirasi. Sesuai kantong saja. Saya nebeng truk dari pangkalan penghasil pasir, diekspor lewat Medan.

Anda memilih tinggal di kampung. lebih enak dari pada tinggal di kota besar ya?

Kalau tinggal di kampung, kan beda dengan di kota. Kalau di kota kita nggak peduli dengan tetangga, keluarga juga kita tidak banyak ya. Kalau di kampung ada suatu sistem sosial yang sifatnya bukan uang. Orang kalau nggak muncul di lapau jadi sesuatu yang aneh. Ternyata kita memang harus menyediakan waktu untuk bersosialisasi sama keluarga, apalagi kita di sini hidup berkaum-kaum.

Punya ritual harian?

Pukul empat, atau setengah lima, kayak pegawai negeri,lah. Pukul 4 sampai anak-anak sarapan, kemudian begitu anak sekolah pagi-pagi sampai pukul 11 atau 12, saya baca-baca. Pulang mereka sekolah saya main sama anak-anak. Waktu lainnya untuk bersosialisasi.

Saat senggang, apa saja yang Anda lakukan?

Bersepeda. Itu mulai saya lakukan sejak pulang ke Payakumbuh 12 tahun lalu. Asyik rasanya setelah selama 10 tahun lebih di Padang bisa kembali tinggal di Payakumbuh. Dengan bersepeda ini beda dengan naik motor. Lebih banyak yang bisa saya lihat, juga untuk olah raga. Rutenya biasanya dari rumah, keliling kota, kadang-kadang saya ke lembah Harau, bisa 2 atau 3 jam. Agar lebih sehat. Kata orang, saya sehat.

Dalam sehari saya bisa 2 jam bersepeda. Biasanya beli koran Jakarta yang sampai di sini siang, saya baca judulnya saja, lalu keliling lagi naik sepeda, sampai di rumah, sore habis mandi baru baca koran.

Kapan waktu menulisnya?

Saya menulis bisa pagi, bisa siang. Malam tidak lagi menulis, karena malam-malam bantu anak bikin PR. Saya lihat kalau mereka kesulitan setelah itu mereka benci dengan pelajaran itu. Jadi supaya tidak benci, saya membantu mereka paham dalam pelajaran itu supaya menyenangkan. Mungkin guru di sekolah nggak menyenangkan mengajarnya. Alhamdulillah mereka juara-juara. Juara umum. Saya bantu hanya bila mereka sudah muak mengerjakan PR. Tapi kalau masih mau mengerjakan saya biarkan saja. Sekarang beban pelajaran anak-anak itu luar biasa. Kasihan lihat anak-anak, sampai bungkuk-bungkuk membawa tas, mengerikan. Saya tulis kisah anak-anak ini dalam kumpulan cerpen Perantau itu. Judulnya Kami Lepas Anak Kami.

Ini satu lagi, soal nama. Mana yang benar, Gus tf atau Gus tf Sakai?

Dua-duanya. Saya pakai Gus tf Sakai untuk prosa dan Gus tf untuk puisi. Supaya ada pemisahan profesional. Supaya saya bisa berkonsentrasi pada dua jalan ini dengan serius.

Karya dan Penghargaan
Kumpulan Puisi:
1. Sangkar Daging, 1997
2. Daging Akar, 2005

Kumpulan Cerpen:
1. Istana Ketirisan, 1996
2. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 1999
3. Laba-laba, 2003
4. Perantau, 2007

Novel:
1. Segi Empat Patah Sisi (novel remaja), 1990
2. Segitiga Lepas Kaki (novel remaja), 1991
3. Ben (novel remaja), 1992
4. Tambo (Sebuah Pertemuan), 2000
5. Tiga Cinta, Ibu, 2002
6. Ular Keempat, 2005

Penghargaan
1. Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2001.
2. Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas, 2002.
3. Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2002.
4. Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi Susi, 2002
5. SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 2004.
6. Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat, 2004.
7. Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan cerpen Perantau, 2007.

Rabu, 18 Januari 2012

sajakku bercerita


sajakku bercerita


talang menjulang dalam harian yang menjelang
menjadikan angan yang tertampung dalam waduk kelihaian
kau tutup pintu di awal penderitaan ,
bersembunyi , lalu diam !!

awal yang baik , untukmu dapat melihat lalu lalang kendaraan bermesin
merasakan bunyi , 1000 tanda yang telah terpampang
jangan takut , dan mengelak
genggam tanganku , dan kita keluar

bersembunyi saja bila kau tak kuasa
hanya cukup meraba jika itu perlu untukmu
berdirilah di depan atau di belakangku
percaya , aku akan melindungimu

hentakan saja , dalam fikiran kosong terima apa adanya
bentangkan sisi roman penyejuk udara
asap gelap tak akan pernah menghadang
berikan kepadaku , maka aku akan menyambungnya

ayo , cepat habiskan makananmu
karena istirahat ini tak akan lama
pandangilah sekelilingmu dengan puasnya
karena , sebentar lagi kita akan berangkat !!


END

     (13 januari 2012)
                                  Alex Wahyu Nurbista L                                        
        (Serunai Laut)

"cerita layar"

"cerita layar"


senjaku kembali menerang , dalam gerangan  yang akan terpancang
menyeluruh dari tiap rongga perpusaran waktu menyedot isi pertumpahanku
dalam dan di luar area pelayaran menempuh ranting menuju keindahan
menancapakan tebing mendaki pegunungan dalam lereng yang tlah bertuah


ayunkan sampan melunglai langkah
berkedip , telinga bersuara dalam gendang berirama dendang
tancapkan katrol , menunggu penarikan
dalam benang ku tarik ilham dirimu merasuki setiap celah di jantungku


aku telah sampai,
sayang , aku berdiri tepat di tengah deraian angin yang menggulung samudara
melewati kutub menyinggahi pulau , merata tatapan kosong dari arah daratan
menyiang tempat untuk ku jatuhkan jangkar pelayaranku , mempersuntingmu dalam perlabuhanku


telah memimilh dan memilah dengan seksama aromatika penyayatan
batang hidung telah mancung dengan sendirinya
merah bibir bias cempaka pucuk bunga mawar
sayang , aku telah sampai dari uung negeri sana , berlabuh disini untuk menyuntingmu jauh kedalam hatiku




(SERUNAI LAUT 11 januari 2012)                                     (Alex Wahyu Nurbista L)

SEBUAH PESAN DIDALAM SAJAK

SEBUAH PESAN DIDALAM SAJAK



(SERUNAI LAUT 10 januari 2012)
Telaah menggenggam sebab di balik proses yang kian menuntun
... menjaga keteguhan di seberang sungai , kelapa runtuh dari berbagai sudut-sudut segi empat
memungut satu-persatu setiap sanding lalu di belah , memuncratkan isi menjadi santapan sedap menelan bersama dalam keadaan yang kian meniti celah , walaupun sempit
angkat genggaman baru pencari kebenaran yang mutlak!
Jangan lupakan, setiap kelapa yang telah mengucur di kepala kalian
karena di balik makna akan tersembunyi makna yang sebenernya dan kalianpun akan sadar nantinya
terus bergerak,bentangkan tangan meskipun itu dalam gelap
terus gali batuan hijau perusak pasir ombak di ujung pencarian!
Dan ingat , satu proses akan sangat besar harganya nanti , sampai nadi telah tercabut, dan darah tidak akan lagi berdetak , dalam fikiran tak mampu untuk mengilhami setiap arti di balik kiasan
tidak akan mati bila tidak menghendakinya
nikmatilah suguhan ini walau hanya berupa tulisan yang tak berharga!
Aku tidak mengharapkan penghargaan yang lebih
dan juga tidak meminta untuk di ilhami
satu dalam seribu akan menjadi rumah untukku
yang akan ku tempati , dalam ruang saling bencengkrama mencari satu yang akan menjelang , seiring waktu tegak dan tak akan pernah jatuh meski itu akan di cabut oleh spesies penikmat kekayaan yang memandang rendah hasil karya ciptaan tangan anak manusia
Angkat bendera buktikan keberadaan
meski hanya sebatas semut , namun itu bukanlah pencitraan
hantam gulungan besi yang akan terangkat
campkan , dalam kuburan maksiat penikmat jaringan!
(Alex Wahyu Nurbista L)

Senin, 28 November 2011

Fakta vs Mitos Ganja

Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya akibat yang ditimbulkan dari penggunaan ganja atau marijuana. Mereka tidak pernah mendapatkan informasi yang benar dan jujur mengenai efek dari zat yang terkandung dalam ganja. Informasi yang mereka peroleh umumnya bersumber dari suatu penelitian ilmiah yang tidak lengkap dan hanya sepihak. Banyak informasi yang keliru yang bisa kita temukan dari hasil penelitian tersebut. Sayangnya hukum dan undang-undang juga turut ambil bagian dari kekeliruan ini, sehingga vonis yang dikenakan bagi orang yang kedapatan memiliki ganja amat sangat berat dan sangat tidak adil. Hukuman yang diterima atas kepemilikan ganja lebih berat jika dibandingkan dengan dampak dan akibat yang di timbulkan atas penggunaan ganja.

Ada banyak mitos yang keliru dan sangat menyesatkan di seputar tanaman ganja ini. Mitos yang negatif terhadap tanaman ganja telah lama menghantui alam pikiran masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Oleh karena itulah maka ganja atau cannabis atau marijuana menjadi momok menakutkan yang kerap menghantui pikiran tiap orang apabila mendengarnya, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak remaja yang baru tumbuh dewasa. Mereka takut jika anak, saudara, atau teman mereka terkena pengaruh untuk mengkonsumsi ganja.

Dari beberapa penelitian ilmiah di bawah ini (disertai dengan referensi) terbukti bahwa ganja bukanlah sesuatu yang berbahaya seperti apa yang diketahui masyarakat selama ini. Berikut ini adalah beberapa bukti ilmiah yang mengungkapkan FAKTA yang sebenarnya dan sekaligus membantah anggapan yang salah selama ini.

(gunakan tombol panah ← → untuk navigasi)

19 of 19


Ganja dapat mengakibatkan kecanduan?



Mitos: Ganja dapat mengakibatkan kecanduan yang sangat tinggi.

Menggunakan ganja dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kecanduan secara fisik dan membutuhkan ahli terapis untuk bisa berhenti dari kebiasaan menggunakan ganja.

Fakta: Kebanyakan pengguna ganja hanya menghisap ganja sesekali saja.

Di Amerika Serikat hanya sedikit orang-orang yang mengkonsumsi ganja, hanya sekitar 1 persen dalam sehari orang mengisap ganja dan hanya sedikit sekali yang mengalami ketergantungan. Seorang pengguna berat ganja dapat berhenti dengan mudah tanpa mengalami kesulitan. Ganja tidak menyebabkan ketergantungan fisik. Jika orang mengalami gejala putus ganja, mereka tidak akan mengalami masalah yang berarti. → Referensi


Ganja sekarang berpotensi lebih berbahaya?

Mitos: Ganja sekarang berpotensi lebih berbahaya dibanding yang dulu.

Orang dewasa yang pernah menggunakan ganja di tahun 1960-an dan 1970-an tidak menyadari bahwa remaja sekarang menggunakan ganja yang jauh lebih berbahaya.

Fakta: Ganja yang dikonsumsi remaja sekarang adalah sama seperti yang pernah di gunakan remaja di tahun 1960 dan 1970 an.

Sejumlah kecil sample THC rendah yang disita oleh Drug Enforcement Administration digunakan untuk menghitung adanya potensi peningkatan yang dramatis. Namun, sample tersebut tidak mewakili ganja secara umum yang ada saat ini. Data potensial dari tahun 1980-an sampai sekarang lebih dapat di percaya yang mana data tersebut menunjukkan tidak adanya peningkatan rata-rata kadar THC dalam ganja. Walaupun jika ganja berpotensi mengalami peningkatan, itupun belum tentu membuatnya menjadi lebih berbahaya. Marijuana cukup bervariasi secara substansial dalam potensi menghasilkan efek psikoaktif yang serupa. → Referensi


Pelanggaran ganja dikenakan sangsi hukum yang ringan?

Mitos: Pelanggaran hukum atas penggunaan ganja dikenakan sangsi hukum yang ringan.

Hanya sedikit pengguna ganja yang ditahan di penjara. Perlakuan yang lunak diterapkan pada peredaran ganja dan pada pengguna ganja.

Fakta: Penangkapan pengguna ganja di Amerika Serikat jumlahnya meningkat dua kali lipat antara tahun 1991 dan 1995.

Pada tahun 1995, lebih dari satu setengah juta orang ditahan karena pelanggaran ganja. Delapan puluh enam persen dari mereka ditangkap karena memiliki ganja. Puluhan ribu orang sekarang di penjara karena mengkonsumsi ganja. Mereka sebagian besar dihukum dengan hukuman masa percobaan, denda, dan sanksi perdata, termasuk penyitaan atas kepemilikan harta benda, SIM mereka dicabut, dan pekerjaan mereka berakhir. Meskipun di ancam dengan sanksi perdata dan pidana, ganja tetap saja tersedia dan banyak digunakan. → Referensi


Ganja merusak paru-paru dibanding tembakau?

Mitos: Ganja dapat merusak paru-paru lebih besar dibanding tembakau.

Orang yang mengisap ganja memiliki risiko tinggi terkena kanker paru-paru, bronchitis, dan emphysema.

Fakta: Orang yang merokok ganja secara moderat sedikit terkena bahaya kerusakan pada paru-paru.

Seperti halnya asap rokok, asap ganja mengandung sejumlah iritasi dan karsinogen. Tapi pengguna ganja biasanya tidak terlalu sering mengisap ganja di bandingkan perokok tembakau dan ini menyebabkan perokok ganja menghirup asap jauh lebih sedikit. Dampaknya, resiko kerusakan paru-paru bagi perokok ganja jauh lebih rendah dibanding perokok tembakau. Tidak ada laporan mengenai kangker paru-paru yang di akibatkan semata-mata karena sebab penggunaan ganja. Bahkan dalam studi besar yang disampaikan oleh American Thoracic Society tahun 2006, tidak di temukan bukti peningkatan resiko terkena kangker paru-paru bagi pengguna berat ganja. Tidak seperti perokok berat tembakau, pada perokok berat ganja tidak menunjukkan adanya penyumbatan jalan napas paru-paru. Itu menunjukkan bahwa orang yang merokok ganja tidak akan mengalami emfisema. → Referensi


Ganja menyebabkan kerusakan mental?

Mitos: Ganja dapat menyebabkan kerusakan mental permanen.

Di antara remaja, bahkan yang jarang menggunakan ganja sekalipun bisa mengalami kerusakan psikologis. Selama mabuk, pengguna ganja menjadi tidak rasional dan sering tidak konsisten dalam bekerja.

Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa ganja dapat menyebabkan kerusakan psikologis atau penyakit mental baik remaja atau orang dewasa.

Beberapa pengguna ganja mengalami tekanan psikologis setelah menggunakan ganja yang mungkin mencakup perasaan panik, gelisah, dan paranoia. Pengalaman seperti itu bisa menakutkan, tapi efeknya hanya bersifat sementara. Dengan dosis yang sangat besar, ganja dapat menyebabkan psikosis toksik sementara. Ini pun jarang terjadi, walaupun ganja di konsumsi dengan cara di makan atau di hisap seperti rokok. Ganja tidak menyebabkan perubahan mendasar dalam perilaku orang. → Referensi


Ganja tidak dapat digunakan sebagai obat?

Mitos: Ganja tidak dapat digunakan sebagai obat.

Sudah tersedia obat-obatan yang lebih efektif dan aman. Obat-obatan tersebut termasuk versi sintetik THC, yaitu bahan aktif utama ganja yang dipasarkan di Amerika Serikat dengan nama Marinol.

Fakta: Ganja terbukti efektif dalam mengurangi rasa mual pada kemoterapi kanker, merangsang nafsu makan pada pasien AIDS, dan mengurangi tekanan intraokuler pada orang yang mengidap glaukoma.

Ada bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa ganja dapat mengurangi kelenturan otot pada pasien dengan gangguan neurologis. Kapsul sintetis tersedia dengan resep dokter, tetapi untuk kebanyakan pasien kapsul tersebut tidak seefektif di banding dengan cara di hisap seperti rokok. THC murni juga dapat menimbulkan efek samping psikoaktif yang tidak menyenangkan dibandingkan merokok ganja. Saat ini banyak orang yang menggunakan ganja sebagai obat meskipun illegal. Akibatnya mereka berisiko tertangkap dan di penjara. → Referensi


Ganja adalah jalan menuju narkoba?

Mitos: Ganja adalah jalan menuju narkoba yang lebih berbahaya.

Meskipun ganja hanya sedikit mengakibatkan kerugian, ganja adalah zat berbahaya karena dapat menyebabkan penggunaan narkoba lain yang lebih berat seperti heroin, LSD, dan kokain.

Fakta: Ganja tidak menyebabkan orang untuk menggunakan narkoba.

Teori gateaway to drugs muncul sebagai penjelasan kausal mengenai hubungan statistik antara narkoba secara umum. Asosiasi yang berubah dari waktu ke waktu terhadap narkoba berbeda pada peningkatan dan penurunan prevalensi. Ganja adalah narkoba yang paling populer di Amerika Serikat saat ini. Oleh karena itu, orang-orang yang sudah menggunakan narkoba seperti heroin, kokain, dan LSD, cenderung ingin menggunakan ganja juga. Kebanyakan pengguna ganja tidak pernah menggunakan obat terlarang lainnya. Memang, bagi sebagian besar orang ganja adalah terminus daripada sebagai gateway drugs. → Referensi


Bahaya ganja telah terbukti secara ilmiah?

Mitos: Bahaya ganja telah terbukti secara ilmiah.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, banyak orang percaya bahwa ganja itu tidak berbahaya. Hari ini kita tahu bahwa ganja jauh lebih berbahaya daripada yang kita yakini sebelumnya.

Fakta: Setelah meninjau pada bukti ilmiah tahun 1972, Komisi Nasional Penyalahgunaan Ganja dan Narkoba (National Commission on Marihuana and Drug Abuse) menyimpulkan bahwa selama ini bahaya ganja terlalu dibesar-besarkan.

Sejak saat itu ribuan penelitian dilakukan terhadap manusia, hewan, dan sel-sel budaya. Dari penelitian tersebut tidak ada satupun temuan yang berbeda dari apa yang telah dijelaskan oleh Komisi Nasional tahun 1972. Berdasarkan pada tiga puluh tahun penelitian ilmiah dari jurnal kedokteran Inggris ìLancet” pada tahun 1995, dapat disimpulkan bahwa: “merokok ganja, walaupun dalam jangka panjang, tidak berbahaya bagi kesehatan.”→ Referensi


Ganja penyebab sindrom amotivational?

Mitos: Ganja adalah penyebab Sindrom Amotivational.

Ganja membuat pengguna menjadi pasif, apatis, dan tidak tertarik pada masa depan. Siswa yang menggunakan ganja berprestasi rendah, dan pekerja yang menggunakan ganja menjadi tidak produktif.

Fakta: Selama dua puluh lima tahun, para peneliti telah gagal menemukan bukti bahwa ganja menyebabkan sindrom amotivational.

Orang yang mabuk terus-menerus (tanpa menyangkut-pautkan dengan narkoba), tidak akan mungkin menjadi anggota masyarakat yang produktif. Tidak ada satupun efek dari ganja yang dapat mengakibatkan seseorang hilang kendali dan ambisi. Dalam studi laboratorium, subyek yang diberi ganja dalam dosis tinggi selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tidak menunjukkan penurunan dalam motivasi kerja atau produktivitas. Di antara orang dewasa yang bekerja, pengguna ganja cenderung mendapatkan upah lebih tinggi daripada non-pengguna. Mahasiswa yang menggunakan ganja memiliki nilai sama dengan yang bukan pengguna. Di antara siswa SMA, penguna berat ganja terkait dengan kegagalan sekolah, tetapi kegagalan sekolah biasanya datang sebelum siswa tersebut menggunakan ganja. → Referensi


Kebijakan ganja di Belanda adalah kesalahan?

Mitos: Kebijakan mengenai ganja di Belanda adalah sebuah kesalahan.

Hukum di Belanda yang memungkinkan orang membeli, menjual, dan menggunakan ganja secara terbuka, telah menyebabkan peningkatan penggunaan ganja, khususnya di kalangan remaja.

Fakta: Kebijakan hukum narkoba di Belanda adalah yang paling terbuka di Eropa.

Selama lebih dari dua puluh tahun, warga negara Belanda di atas usia 18 tahun telah diizinkan membeli dan menggunakan ganja dan hasish di kedai kopi yang diatur pemerintah. Kebijakan ini tidak berdampak pada peningkatan pengguna ganja. Untuk kelompok usia tertentu, tingkat penggunaan ganja di Belanda adalah sama dengan di Amerika Serikat. Namun, untuk remaja muda, tingkat penggunaan ganja lebih rendah di Belanda daripada di Amerika Serikat. Masyarakat Belanda sangat setuju dengan kebijakan ganja saat ini yang bertujuan untuk menormalkan dramatisasi atas penggunaan ganja. Pemerintah Belanda kadang-kadang merevisi kebijakan yang ada, tapi tetap berkomitmen untuk dekriminalisasi. → Referensi


Ganja membunuh sel otak?

Mitos: Ganja dapat membunuh sel otak.

Apabila digunakan secara terus menerus, ganja dapat mengubah struktur dan fungsi otak secara permanen, menyebabkan kehilangan memori, gangguan kognitif, kerusakan kepribadian, dan menyebabkan berkurangnya produktivitas.

Fakta: Tidak pernah ada medical test yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan otak pada manusia akibat mengkonsumsi ganja, bahkan dari penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi sekalipun.

Sebuah studi awal melaporkan adanya kerusakan pada otak kera setelah enam bulan di cekoki asap ganja berkonsentrasi tinggi. Baru-baru ini, dengan didasari penelitian yang lebih hati-hati, para ilmuan tidak menemukan bukti adanya kelainan otak pada monyet yang dipaksa untuk menghirup asap ganja setara 4-5 batang rokok ganja setiap hari selama setahun. Klaim bahwa ganja membunuh sel-sel otak adalah berdasarkan laporan spekulatif sejak seperempat abad yang lalu dan belum pernah didukung oleh studi ilmiah. → Referensi


Ganja mengganggu memori dan kognisi?

Mitos: Ganja mengganggu Memori dan Kognisi.

Di bawah pengaruh ganja, orang tidak mampu berpikir rasional dan cerdas. Pengguna ganja kronis akan mengalami penurunan mental secara permanen.

Fakta: Ganja mengakibatkan perubahan sementara dalam berfikir, persepsi dan pengolahan informasi.

Proses kognitif yang paling jelas dipengaruhi oleh ganja adalah memori jangka pendek. Dalam studi laboratorium, subyek di bawah pengaruh ganja tidak mengalami kesulitan dalam mengingat hal-hal yang pernah mereka pelajari sebelumnya. Namun mereka menampilkan berkurangnya kapasitas untuk belajar dan mengingat informasi baru. Pengaruh berkurangnya daya ingat ini hanya berlangsung sementara saja. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa penggunaan ganja untuk jangka panjang bisa mengganggu memori atau fungsi kognitif lainnya secara permanen. → Referensi


Ganja penyebab kriminalitas?

Mitos: Ganja penyebab kriminalitas.

Pengguna ganja cenderung melakukan kekerasan lebih dari non pengguna. Di bawah pengaruh ganja, orang menjadi tidak rasional, agresif, dan kasar.

Fakta: Ganja tidak menyebabkan tindak kejahatan.

Kalangan ilmuwan dan komisi pemerintah memeriksa hubungan antara penggunaan ganja dan kejahatan dan mereka telah mencapai kesimpulan yang sama bahwa: Ganja tidak menyebabkan kejahatan. Sebagian besar pengguna ganja tidak melakukan kejahatan lain selain kejahatan karena memiliki ganja. Pengguna ganja yang melakukan kejahatan bukan disebabkan oleh pengaruh ganja, melainkan karena faktor lain di luar ganja. Studi pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa ganja dapat merngurangi peningkatan agresi pada manusia. → Referensi


Ganja mengganggu hormon seks pria dan wanita?

Mitos: Ganja mengganggu hormon seks pria dan wanita.

Ganja dapat menyebabkan kemandulan pada pria dan wanita. Ganja memperlambat perkembangan seksual pada remaja. Ganja menghasilkan karakteristik feminin pada pria dan karakteristik maskulin pada perempuan.

Fakta: Tidak ada bukti bahwa ganja menyebabkan kemandulan pada pria atau wanita.

Dalam sebuah penelitian yang menggunakan hewan percaobaan, dosis tinggi THC mengurangi produksi beberapa hormon seks dan dapat mengganggu reproduksi. Namun, lebih banyak studi tentang manusia yang membuktikan bahwa ganja tidak memiliki pengaruh hormon seks. Studi tersebut menunjukkan dampak yang sederhana, sementara, dan tidak ada konsekuensi yang jelas terhadap proses reproduksi. Tidak pernah ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa ganja dapat memperlambat perkembangan seksual remaja dan mengakibatkan efek feminisasi pada laki-laki, atau efek maskulinisasi pada perempuan. → Referensi

Mengkonsumsi ganja dapat merusak janin?

Mitos: Mengkonsumsi ganja pada saat hamil dapat merusak Janin.

Kerusakan janin yang terjadi bisa mengakibatkan cacat pada bayi saat lahir. Di saat masa pertumbuhan, anak tersebut akan mengalami masalah. Sang anak juga akan terancam masalah kesehatan.

Fakta: Studi pada bayi yang baru lahir dan anak-anak tidak menunjukkan adanya kekurangan fisik yang konsisten, perkembangan, atau defisit kognitif yang terkait dengan penggunaan ganja pada waktu kehamilan. Penggunaan ganja di saat kehamilan tidak berdampak pada ukuran berat bayi saat di lahirkan, usia kehamilan, perkembangan saraf, atau terjadinya kelainan fisik. Salinan test pada ratusan anak yang lebih tua hanya mengungkapkan perbedaan kecil antara keturunan pengguna ganja dan non pengguna. Dua studi lain yang belum terkonfirmasi adalah identifikasi pemakaian ganja selama masa kehamilan terkait dengan penyakit kangker pada anak. Mengingat tidak adanya bukti-bukti lain yang mndukung, sangat tidak mungkin bahwa ganja bisa menyebabkan kanker pada anak-anak. → Referensi


Ganja merusak sistem kekebalan tubuh?

Mitos: Ganja dapat merusak sistem kekebalan tubuh.

Mengkonsumsi ganja dapat meningkatkan risiko infeksi, termasuk HIV. Pasien AIDS sangat rentan terhadap efek immunopathic ganja karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah hilang.

Fakta: Tidak ada bukti bahwa pengguna ganja lebih rentan terhadap infeksi di banding non pengguna.

Juga tidak ada bukti bahwa ganja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit seksual yang menular. Studi awal yang menunjukkan adanya penurunan fungsi kekebalan tubuh dalam sel yang diambil dari pengguna ganja telah disangkal. Hewan yang terkena virus diberi THC dalam dosis yang besar memiliki resiko infeksi yang lebih tinggi. Studi semacam itu memiliki relevansi sedikit pada manusia. Bahkan orang dengan gangguan kekebalan tubuh seperti AIDS relative aman menggunakan ganja. Namun, penelitian baru-baru ini menemukan hubungan antara merokok tembakau dan infeksi paru-paru pada pasien AIDS jauh lebih memungkinan bahaya merokok ganja bagi orang yang mengalami masalah kekebalan tubuh. → Referensi


Ganja menyebabkan kecelakaan lalu-lintas?

Mitos: Ganja penyebab utama kecelakaan lalu-lintas.

Seperti alkohol, ganja merusak fungsi psikomotor dan menurunkan kemampuan mengemudi. Apabila penggunaan ganja meningkat, peningkatan kecelakaan fatal lalu lintas tak terelakkan.

Fakta: Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa marijuana menyumbang banyak pada kecelakaan lalu lintas dan kematian.

Pada dosis tertentu ganja mempengaruhi persepsi dan kinerja psikomotor, yaitu perubahan yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi. Akan tetapi pada studi mengenai kemampuan mengemudi, ganja hanya sedikit mempengaruhi kempuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan. Pada pengguna ganja tidak ada penurunan konsistensi saat menyetir mobil seperti pengguna alcohol yang cenderung beresiko kecelakaan. Ganja cenderung membuat si pengemudi lebih berhati-hati. Survei menunjukkan bahwa ketika THC terdeteksi dalam darah, alkohol hampir selalu terdeteksi juga. Untuk beberapa individu, ganja mungkin memainkan peran dalam kualitas mengemudi, namun secara keseluruhan tingkat kecelakaan jalan raya tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penggunaan ganja secara luas di masyarakat. → Referensi


Ganja terkait peningkatan pasien gawat darurat?

Mitos: Ganja terkait pada peningkatan pasien darurat rumah sakit.

Ini adalah bukti bahwa ganja jauh lebih berbahaya dari apa yang di percaya orang selama ini.

Fakta: Marijuana tidak menyebabkan kematian overdosis.

Jumlah orang di ruang gawat darurat rumah sakit yang mengatakan diri mereka telah menggunakan ganja meningkat. Atas dasar inilah catatan kunjungan di rumah sakit digunakan sebagai bukti bahwa ganja ada kaitannya walaupun tidak ada hubungannya dengan kondisi medis sebelum datang ke rumah sakit. Lebih banyak remaja yang menggunakan ganja daripada obat-obatan seperti heroin dan kokain. Akibatnya, ketika remaja mengunjungi kamar rumah sakit darurat, mereka melaporkan penggunaan ganja jauh lebih sering daripada mereka melaporkan heroin dan kokain. Pada sebagian besar kasus-kasus ketika ganja disebutkan, obat lain juga disebutkan. → Referensi


Dapatkah penggunaan ganja bawah umur dicegah?

Mitos: Penggunaan ganja oleh bawah umur dapat dicegah.

Pendidikan tentang bahaya narkoba dapat mengurangi penggunaan ganja pada tahun 1980. Tetapi setelah pendidikan tentang bahaya narkoba tersebut dikurangi, jumlah pengguna ganja jadi meningkat. Dengan memperluas dan mengintensifkan pesan anti-ganja, kita bisa menghentikan remaja yang ingin mencoba.

Fakta: Tidak ada bukti bahwa pesan anti narkoba dapat mengurangi minat orang muda untuk mencoba narkoba.

Kampanye anti-narkoba di sekolah-sekolah dan media massa justru malah membuat narkoba jadi lebih menarik. Pengguna ganja di antara remaja menurun sepanjang tahun 1980, dan mulai meningkat lagi pada tahun 1990-an. Peningkatan ini terjadi di saat pemerintah gencar melakukan kampanye anti narkoba/ganja, inilah kampanye anti-ganja terbesar dalam sejarah Amerika. Di sejumlah negara lain, program pendidikan anti narkoba didasarkan pada ìharm reductionî, yang bertujuan untuk mengurangi akibat buruk narkoba di kalangan remaja yang mulai mencoba-coba narkoba. → Referensi

(cpt)

Ganja terkait peningkatan pasien gawat darurat?
Previous
19 of 19
Show all

Index Referensi

#1 – Ganja dapat mengakibatkan kecanduan?
United States. Dept. of Health and Human Services. DASIS Report Series, Differences in Marijuana Admissions Based on Source of Referral. 2002. June 24 2005.
Johnson, L.D., et al. ìNational Survey Results on Drug Use from the Monitoring the Future Study, 1975-1994, Volume II: College Students and Young Adults.î Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1996.
Kandel, D.B., et al. ìPrevalence and demographic correlates of symptoms of dependence on cigarettes, alcohol, marijuana and cocaine in the U.S. population.î Drug and Alcohol Dependence 44 (1997):11-29.
Stephens, R.S., et al. ìAdult marijuana users seeking treatment.î Journal of Consulting and Clinical Psychology 61 (1993): 1100-1104.

kembali ke atas ↑

#2 – Ganja sekarang berpotensi lebih berbahaya?
King LA, Carpentier C, Griffiths P. ìCannabis potency in Europe.î Addiction. 2005 Jul; 100(7):884-6
Henneberger, Melinda. “Pot Surges Back, But Itís, Like, a Whole New World.” New York Times 6 February 1994: E18.
Brown, Lee. ìInterview with Lee Brown,î Dallas Morning News 21 May 1995.
Drug Enforcement Administration. U.S. Drug Threat Assessment, 1993. Washington, DC: U.S. Department of Justice, 1993.
Kleiman, Mark A.R. Marijuana: Costs of Abuse, Costs of Control. Westport: Greenwood Press, 1989. 29.
Bennett, William. Director of National Drug Control Policy, remarks at Conference of Mayors. 23 April 1990.

kembali ke atas ↑

#3 – Pelanggaran ganja dikenakan sangsi hukum yang ringan?
United States. Federal Bureau of Investigation. Uniform Crime Reports for the United States. 1996. Washington: U. S. Dept. of Justice, 1997.
Gettman, Jon B. National Organization for the Reform of Marijuana Laws. Crimes of Indescretion: Marijuana arrests in the United States. Washington: NORML, 2005.
Marijuana Policy Project. Smoke a Joint, Lose Your License. July 1995 Status Report. Washington: MPP, 1995.
Treaster, J. ìMiami Beachís New Drug Weapon Will Fire Off Letters to the Employerî New York Times 23 February 1991: A9.
Reed, T.G. ìAmerican Forfeiture Law: Property Owners Meet the Prosecutor.î Policy Analysis 179 (1992): 1-32.

kembali ke atas ↑

#4 – Ganja merusak paru-paru dibanding tembakau?
Center on Addiction and Substance Abuse. ìLegalization: Panacea or Pandoraís Box.î New York. (1995): 36.
Turner, Carlton E. The Marijuana Controversy. Rockville: American Council for Drug Education, 1981.
Nahas, Gabriel G. and Nicholas A. Pace. Letter. ìMarijuana as Chemotherapy Aid Poses Hazards.î New York Times 4 December 1993: A20.
Inaba, Darryl S. and William E. Cohen. Uppers, Downers, All-Arounders: Physical and Mental Effects of Psychoactive Drugs. 2nd ed. Ashland: CNS Productions, 1995. 174.

kembali ke atas ↑

#5 – Ganja menyebabkan kerusakan mental?
Iverson, Leslie. ìLong-term effects of exposure to cannabis.î Current Opinion in Pharmacology 5(2005): 69-72.
Weiser and Noy. ìInterpreting the association between cannabis use and increased risk of schizophrenia.î Dialogues in Clincal Neuroscience 1(2005): 81-85.
“Cannabis use will impair but not damage mental health.” London Telegraph. 23 January 2006.
Andreasson, S. et al. ìCannabis and Schizophrenia: A Longitudinal study of Swedish Conscripts,î The Lancet 2 (1987): 1483-86.
Degenhardt, Louisa, Wayne Hall and Michael Lynskey. ìTesting hypotheses about the relationship between cannabis use and psychosis,î Drug and Alcohol Dependence 71 (2003): 42-4.
Weil, A. ìAdverse Reactions to Marijuana: Classification and Suggested Treatment.î New England Journal of Medicine 282 (1970): 997-1000.

kembali ke atas ↑

#6 – Ganja tidak dapat digunakan sebagai obat?
Vinciguerra, Vincent; Moore, Terry and Eileen Brennan. ìInhalation marijuana as an antiemetic for cancer chemotherapy.î New York State Journal of Medicine 85 (1988): 525-27.
McCabe M, Smith FP, Macdonald JS. ìEfficacy of tetrahydrocannabinol in patients refractory to standard antiemetic therapy.î Investigational New Drugs 6.3 (1988): 243-46.
Gorter, R., et al. ìDronabionol effects on weight in patients with HIV infection.î 1992. AIDS 6 (1992):127-38.
Foltin, R.W., et al. ìBehavioral analysis of marijuana effects on food intake in humans.î Pharmacology Biochemistry and Behavior 25 (1986): 577-82.
Crawford, W.J. and Merritt, J.C. ìEffect of tetrahydrocannabinol on Arterial and Intraocular Hypertension.î International Journal of Clinical of Pharmacology and Biopharmaceuticals 17 (1979):191-96.
Merritt, J.C., et al. ìEffects of marijuana on intraocular and blood pressure on glaucoma.î Ophthamology 87 (1980):222-28.
Baker, D., Gareth Pryce and J. Ludovic Croxford. ìCannabinoids control spasticity and tremor in a multiple sclerosis model.î Nature 404.6773 (2000): 84-7.
Hanigan, W.C., et al. ìThe Effect of Delta-9-THC on Human Spasticity.î Clinical Pharmacology and Therapeutics 39 (1986):198.

kembali ke atas ↑

#7 – Ganja adalah jalan menuju narkoba?
Morral, Andrew R.; McCaffrey, Daniel F. and Susan M. Paddock. ìReassessing the marijuana gateway effect.î Addiction 97.12 (2002): 1493-504.
United States. National Household Survey on Drug Abuse: Population Estimates 1994. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
—. National Household Survey on Drug Abuse: Main Findings 1994. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1996.
D.B. Kandel and M. Davies, ìProgression to Regular Marijuana Involvement: Phenomenology and Risk Factors for Near-Daily Use,î Vulnerability to Drug Abuse, Eds. M. Glantz and R. Pickens. Washington, D.C.: American Psychological Association, 1992: 211-253.

kembali ke atas ↑

#8 – Bahaya ganja telah terbukti secara ilmiah?
United States. National Commission on Marihuana and Drug Abuse. Marihuana: A signal of misunderstanding. Shafer Commission Report. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, 1972.
ìDeglamorising Cannabis.î Editorial. The Lancet 356:11(1995): 1241.

kembali ke atas ↑

#9 – Ganja penyebab sindrom amotivational?
Himmelstein, J.L. The Strange Career of Marihuana: Politics and Ideology of Drug Control in America. Westport, CT: Greenwood Press, 1983.
Mellinger, G.D. et al. ìDrug Use, Academic Performance, and Career Indecision: Longitudinal Data in Search of a Model.î Longitudinal Research on Drug Use: Empirical Findings and Methodological Issues. Ed. D.B. Kandel. Washington, DC: American Psychological Association, 1978. 157-177.
Pope, H.G. et al., ìDrug Use and Life Style Among College Undergraduates in 1989: A Comparison With 1969 and 1978,î American Journal of Psychiatry 147 (1990): 998-1001.

kembali ke atas ↑

#10 – Kebijakan ganja di Belanda adalah kesalahan?
Fromberg, E. ìThe Case of the Netherlands: Contradictions and Values in Questioning Prohibition.î 1994 International Report on Drugs, Brussels: International Antiprohibitionist League, 1994. 113-124.
Sandwijk, J.P., et al. Licit and Illicit Drug Use in Amsterdam II. Amsterdam: University of Amsterdam, 1995.
Gunning, K.F. Crime Rate and Drug Use in Holland. Rotterdam: Dutch National Committee on Drug Prevention. 1993.

kembali ke atas ↑

#11 – Ganja membunuh sel otak?
Heath, R.G., et al. ìCannabis Sativa: Effects on Brain Function and Ultrastructure in Rhesus Monkeys.î Biological Psychiatry 15 (1980): 657-690.
Ali, S.F., et al. ìChronic Marijuana Smoke Exposure in the Rhesus Monkey IV: Neurochemical Effects and Comparison to Acute and Chronic Exposure to Delta-9-Tetrahydrocannabinol (THC) in Rats.î Pharmacology Biochemistry and Behavior 40 (1991): 677-82.

kembali ke atas ↑

#12 – Ganja mengganggu memori dan kognisi?
Wetzel, C.D. et al., ìRemote Memory During Marijuana Intoxication,î Psychopharmacology 76 (1982): 278-81.
Deadwyler, S.A. et al., ìThe Effects of Delta-9-THC on Mechanisms of Learning and Memory.î Neurobiology of Drug Abuse: Learning and Memory. Ed. L. Erinoff. Rockville, MD: National Institute on Drug Abuse 1990. 79-83.
Block, R.I. et al., ìAcute Effects of Marijuana on Cognition: Relationships to Chronic Effects and Smoking Techniques.î Pharmacology Biochemistry and Behavior 43 (1992): 907-917.

kembali ke atas ↑

#13 – Ganja penyebab kriminalitas?
Fagan, J., et al. ìDelinquency and Substance Use Among Inner-City Students.î Journal of Drug Issues 20 (1990): 351-402.
Johnson, L.D., et al. ìDrugs and Delinquency: A Search for Causal Connections.î Ed. D.B. Kandel. Longitudinal Research on Drug Use: Empirical Findings and Methodological Issues. New York: John Wiley & Sons, 1978. 137-156.
Goode, E. ìMarijuana and Crime.î Marihuana: A Signal of Misunderstanding, Appendix I. National Commission on Marihuana and Drug Abuse Washington, DC: U.S. Government Printing Office, 1972. 447-453.
Abram, K.M. and L.A. Teplin. ìDrug Disorder, Mental Illness, and Violence.î Drugs and Violence: Causes, Correlates, and Consequences. Rockville: National Institute on Drug Abuse, 1990. 222-238.
Cherek, D.R., et al. ìAcute Effects of Marijuana Smoking on Aggressive, Escape and Point-Maintained Responding of Male Drug Users.î Psychopharmacology 111 (1993): 163-168.
Tinklenberg, J.R., et al. ìDrugs and criminal assaults by adolescents: A Replication Study.î Journal of Psychoactive Drugs 13 (1981): 277-287.

kembali ke atas ↑

#14 – Ganja mengganggu hormon seks pria dan wanita?
Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana and Cocaine. Atlanta, GA: PRIDE, 1990.
Center for Substance Abuse Prevention. Female Adolescents and Marijuana Use; Fact Sheet for Adults. Rockville: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
Center for Substance Abuse Prevention. Marijuana: Tips for Teens. Rockville: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
Swan, Neil. ìA Look at Marijuanaís Harmful Effects.î NIDA Notes. 9:2 (1994): 16.
Clinton, President Bill. Speech at Framingham High School. Framingham, Massachusetts. 20 Oct. 1994.

kembali ke atas ↑

#15 – Mengkonsumsi ganja dapat merusak janin?
Mann, Peggy. The Sad Story of Mary Wanna. NY: Woodmere Press, 1988. 30.
Fried, Peter. Quoted in ìMarijuana: Its Use and Effects.î Prevention Pipeline. 8:5 (1995): 4.
American Council for Drug Education. Drugs and Pregnancy. Rockville: Phoenix House, 1994.
Swan, Neil. ìA Look at Marijuanaís Harmful Effects.î NIDA Notes. 9. 2 (1994): 16.
Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana ñ Effects on the Female. Atlanta, GA: PRIDE, 1996.

kembali ke atas ↑

#16 – Ganja merusak sistem kekebalan tubuh?
Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana and Cocaine. Atlanta: PRIDE, 1990.
Preate, Ernest D. Blowing Away the Marijuana Smokescreen. Scranton: Pennsylvania Office of Attorney General, [no date]: 2.
Spence, W.R. Marijuana: Its Effects and Hazards. Waco: Health Edco, [no date].
Voth, Eric A. The International Drug Strategy Institute Position Paper on the Medical Applications of Marijuana. Omaha: Drug Watch International, [no date].
Drug Watch International. By Any Modern Medical Standard, Marijuana is No Medicine. Omaha: Drug Watch International, [no date].

kembali ke atas ↑

#17 – Ganja menyebabkan kecelakaan lalu-lintas?
Center on Addiction and Substance Abuse. ìLegalization: Panacea or Pandoraís Boxî. New York. (1995):36.
Swan, Neil. ìA Look at Marijuanaís Harmful Effects.î NIDA Notes. 9.2 (1994): 14.
Moskowitz, Herbert and Robert Petersen. Marijuana and Driving: A Review. Rockville: American Council for Drug Education, 1982. 7.
Mann, Peggy. Marijuana Alert. New York: McGraw-Hill, 1985. 265.

kembali ke atas ↑

#18 – Ganja terkait peningkatan pasien gawat darurat?
Brown, Lee. Quoted in U.S. Department of Health and Human Services Press Release, National Drug Survey Results Released with New Youth Public Education Materials. Rockville: 12 September 1995.
Shalala, Donna. “Say ëNoí to Legalization of Marijuana.” Wall Street Journal 18 August 1995: A10.
Shuster, Charles. Quoted in Drug Enforcement Administration. Drug Legalization: Myths and Misconceptions. Washington, DC: U.S. Department of Justice, 1994. 5.

kembali ke atas ↑

#19 – Dapatkah penggunaan ganja bawah umur dicegah?
Center on Addiction and Substance Abuse. “National Survey of American Attitudes on Substance Abuse.” New York (1995):28.
Brown, Lee. Director of National Drug Control Policy, remarks at National Conference on Marijuana Use: Prevention, Treatment, and Research. Sponsored by the National Institute on Drug Abuse, Arlington, VA (July 1995).
Califano, Joseph A. “Donít Stop This War.” Washington Post 26 May 1996: C7.
Shalala, Donna. “Marijuana: A Recurring Problem.” Prevention Pipeline 8.5 (1995): 2.
Burke, James. [Partnership for a Drug-Free America]. Interview. MS-NBC with Tom Brokaw. MS-NBC, 3 September 1996.
Falco, Mathea. The Making of a Drug-Free America: Programs That Work. New York: Times Books, 1992. 202.

Minggu, 13 November 2011

You Tube Videos

Minggu, 06 November 2011

Tulisan Cita-Cita

menulis di atas putihnya sang kaca
menggoreskan tinta ciptakan keindahan
garis lurus membentang dai sisi ke sisi
menyempurnakan kata,hingga membentuk sekumpulan nada

bernyanyi
mengalunkan kata dalam fakta yang tertunda
memainkan rasa hadirkan sejuta pesona
dan menikmati setiap langkah untuk mencapai cita-cita

melangkah
hanya itu yang dapat di lakukan,sekarang,esok ,dan nanti
tetap berjuang,hingga dapat mencapai tulisan tentang cita-cita
yang telah tersusun rapi di dalam sebuah catatan perjalanan

Uk-Kes 07.sep.2011
  

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews